Indonesian Soft Power
SEBUAH KERTAS KERJA
Mohammad Hamdan
The Power of
Soft Power
Ketika
kita mendengar ribuan orang antri di depan kedai Mc Donald di sebuah negeri
Tirai bambu. Atau ketika kita mengajak keluarga menonton di cineplek 21, sambil
makan pop corn, duduk tenang menyaksikan film import dari Hollwood, setelah itu
kita sekeluarga makan di Mac D, memesan Big Mac dan tentu saja lengkap dengan beberapa
cangkir Coca-Cola-nya. Sadar atau tidak kita semua dalam arena
penjajahan bernama Soft Power.
Soft Power adalah sebuah konsep
pemikiran politik dan kekuasaan paling kontemporer dalam arena ekonomi dan
budaya, yang juga berfungsi organis untuk mengkooptasi kekuasaan. Konsep Ini
memberikan pengaruh dan ketergantungan tanpa sebuah kekuatan militer. Seperti
yang saya contohkan diatas mengenai apa yang kita impor dari luar, tadi
ternyata adalah bagian dari kekuatan Soft Power.
Soft Power bisa jadi
sebenarnya sebuah sintesa yang berasal dari pemahaman Gramsci yang persuasi dan
Machiavelli yang koersi. Istilah ini dicetuskan oleh Joseph Nye, penulis Bound
to Lead: The Changing Nature of American Power, Istilah ini sekaligus
menjawab pertanyaan berbagai kalangan, yaitu benarkah kita sedang menyaksikan
perubahan hakikat kekuasaan, bukan sekadar pergeseran kekuasaan? Bukan
menguasai, melainkan menyihir. Dan dampaknya jauh lebih dalam. Bagaimana
mungkin anda bisa dibilang dijajah, Jika anda sendiri menyukainya, bagaimana
mungkin anda mengatakan dipaksa, kalau anda sendiri ternyata harus antri untuk
mencicipinya.
Di
penghujung Perang Dingin, istilah ini menjadi sangat populer, Joseph Nye hendak
menunjukkan bahwa budaya memainkan peran yang semakin penting dalam politik
dunia. Sedangkan dampaknya teramat luas, baik secara ekonomi, pola konsumsi,
gaya hidup, kebiasaan, bahkan teologi, apa yang benar dan apa yang salahpun
bisa terdekonstruksi demikian rupa, terhidang dengan sangat menggiurkan. Ia
lantaran sudah terlanjur menjadi kebutuhan.
Seorang
sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. berpandangan, bahwa ”tindakan” (practice)
atau apa yag secara aktual dilakukan seseorang, merupakan bentukan dari (dan
sekaligus respons terhadap) aturan-aturan dan konvensi-konvensi budaya. Ia
mengandaikan korelasi secara dialektis hubungan kebudayaan (peta) dengan
tindakan tentang perjalanan. Kebudayaan adalah peta sebuah tempat, sekaligus
perjalanan menuju tempat itu.
Peta
adalah aturan dan konvensi, sedangkan perjalanan adalah tindakan aktual. Apa
yang disebut dengan kemelek-hurufan budaya adalah ”perasaan” untuk
menegosiasikan aturan-aturan budaya itu, yang bertujuan memilih jalan kita
dalam kebudayaan. Tindakan adalah performance dan kemelek-hurufan adalah
budaya. Tindakan seseorang mengajak pacarnya ke Mac D, menjadi pilihan untuk
mengajak teman kencan, adalah sebuah tindakan yang konvensional. Tentu menjadi
aneh ketika Dia mengajaknya ke Warteg.
Lantas bagaimana kemelek-hurufan budaya diterjemahkan ke dalam tindakan
seseorang? untuk menjelaskannya, Bourdieu mempunyai tiga konsep: 1. medan
budaya (cultural field), 2. habitus dan 3. modal budaya (cultural capital).
Bourdieu mendefinisikan medan budaya sebagai institusi, nilai, kategori,
perjanjian, dan penamaan yang menyusun sebuah hierarki obyektif, yang kemudian
memproduksi dan memberi ”wewenang” pada berbagai bentuk wacana dan aktivitas;
dan konflik antar kelompok atau antar individu yang muncul ketika mereka
bertarung untuk menentukan apa yang dianggap sebagai ”modal” dan bagaimana ia
harus didistribusikan. Yang disebut modal cultural oleh Bourdieu
meliputi benda-benda material (yang bisa mempunyai nilai simbolis), prestise,
status, otoritas, juga selera dan pola konsumsi.
Kekuasaan yang dimiliki
seseorang dalam sebuah ”medan” (field), ditentukan oleh posisinya dalam medan
itu, yang pada gilirannya akan menentukan besarnya kepemilikan modal. Kekuasan
itu digunakan untuk menentukan hal-hal macam yang bisa disebut modal (keaslian
modal).
Modal cultural selalu tergantung dan terikat pada medan tertentu, ia
bersifat partikular. Dalam medan gaya hidup remaja Indonesia sekarang misalnya,
pengenalan akan film dan musik Amerika, kemampuan berbahasa gaul, atau
berdandan dengan gaya tertentu, bisa disebut sebagai modal. Bagaimanapun,
kemampuan-kemampuan ini, bukanlah modal, misalnya saja, dalam medan pelayanan
diplomatik.
Ini
menjelaskan bagaimana Bajaj Bajuri mendapatkan perhatian banyak orang. Bajaj
Bajuri bermain dilintasan medan
masyarakat kebanyakan di Indonesia. Hampir kesemua tokohnya mewakili
karakteristik, selera, pola konsumsi, pola aktivitas masyarakat Indonesia.
Sadar atau tidak karakteristik Bajaj Bajuri ini merupakan modal cultural
yang sekedar diangkat kembali. Dan pada saat bersamaan orang Indonesia memiliki
keterkaitan secara self full feeling prophecy.
Ada Apa Dengan Cinta
dan Eifel Im In Love, modal cultural yang bermain adalah karakteristik
anak muda yang bergaul, bergaya kelas menengah kota, out going seputar mall,
shoopers, gaul, funky. Meski demikian sebenernya, ada dua modal cultural yang
berbeda yang beroperasi antara Ada Apa Dengan Cinta dan Bajaj Bajuri, dengan demikian
apakah kedua hal tersebut memetakan dua jenis karakter penonton yang berbeda?
Anda pasti heran dengan karakteristik yang paradoks satu sama lain ini.
Pemahaman
seseorang akan modal cultural berlangsung secara tak sadar, karena menurut Bourdieu dengan cara
begitulah ia akan berfungsi efektif. Seperangkat pengetahuan, aturan, hukum,
dan kategori makna yang ditanamkan secara tak sadar ini oleh Bourdieu disebut
habitus. Habitus bersifat abstrak dan hanya muncul berkaitan dengan putusan
tindakan: ketika seseorang dihadapkan pada masalah, pilihan dan konteks. Dengan
begitu habitus bisa juga dimengerti sebagai ”feel of the game”.
The Orchestra of Communication and Information
Medan
budaya, modal cultural dan habitus memerlukan sebuah pengelolaan. Dimana informasi
dalam era saat ini dengan asumsi masyarakat yang kompleks dan makin cerdas
tentu saja memerlukan sebuah strategi tersendiri. Oleh karenanya. Belajar dari
beberapa reality show dan program yang sempat menyita perhatian masyarakat.
Tentang bagaimana sebuah trend tercipta dan naik turunnya sebuah popularitas
ditengah abstraksi masyarakat itu sendiri. Tentu ada sebuah operasi “kuasa”
bermain di benak masyarakat. Tentang bagaimana mereka menentukan pilihan atau
sebaliknya memberikan alternatif. Ada sebuah ruang komunikasi dua arah yang
teramat interaktif. Bahkan boleh jadi hyperaktif untuk sekedar memberikan opini
atas pilihan mereka. (masyarakat).
The
Orchestra of Communication and Information adalah sebuah pandangan, tentang
bagaimana sebuah gagasan, lalu lintas informasi, dan strategi komunikasi
berpengaruh untuk mampu diposisikan untuk bisa di terima atau untuk
“menina-bobokan”. Pandangan seperti juga Paradigma Joseph Nye, berasal dari
pandangan soft power,. Tentang bagaimana menaklukan, membuat orang lain
bertindak dan melakukan apa yang menjadi keinginan kita tanpa sebuah operasi
represi. Bahkan lebih dari dari itu sifatnya adalah menyihir. Dan bukan sekedar
operasi propaganda dan hegemoni lainnya.
Soft
power tentu jauh lebih, halus dari hegemoni sekalipun, sebab hegemoni, kita
merasa sadar bahwa kita di perlakukan untuk melakukan hal tersebut namun soft
power justru kita melakukannya dengan sangat suka cita dan mendalam tentu saja.
Dunia Televisi, Sinema Dan Musik
Televisi
telah menjadi semacam alat penyihir, dimana konsumerisme dan komersialisme
menjadi ruang yang tak ada habis-habisnya. Seperti dalam beberapa survey, bahwa
televisi telah menjadi soko guru bagi perkembangan anak dan keluarga di Asia,
sedikitnya tercatat peningkatan yang sangat besar di Asia ini. Yang sangat
signifikan.
Untuk
itulah Televisi, Sinema, dan Musik sebagai alat tranfromasi makna serta simbol-simbol
yang awalnya sangat absurb menjadi demikian nyata, bahwkan, dalam
perkembangannya realitas sesungguhnya mampu di reorganisir melalui pencitraan
media ini. Sehingga tidak ayal. Televise daam kaitannya dengan perkembangan
informasi, justru seharusnya sudah dipandang sebagai bagian dari alat ketahanan
nasional.
Diskursus
televise dan ketahanan nasional, saat ini sudah sedemikian tak terelekaan.
Tidak bias di nafikkan peran media ini dalam membentuk citra, karakter, serta
pendidikan bangsa. Ini tentu saja menggambarkan kekuatan yang bias diperopleh
sekaligus, kerugian dan kehancuran yang tidak bisa diantisipasi dari perkembangannya.
Industri Citra Dan
Sektor Real
Jika Industri citra
merupakan software-nya, dan sektor real merupakan hardware-nya, hal ini bisa
terhubungkan dengan sangat mengagumkan serta saling memberikan simbiosis
mutualisme-nya yang menguntungkan. Di Jepang Aliansi industri animasi, telah
memungkinkan terjadinya pergerakan industri yang luar biasa.
Di Hollywood tentu
sudah bukan rahasia lagi ketika, teknologi otomotif yang di pamerkan oleh James
Bond menjadi sebuah propaganda yang membantu pemasaran mobil-mobi bermerek dan
mewah. Dan sebutah sederet ainnya. Yang merupakan bukti bahwa Industri citra
Juga memiliki dampak sangat ampuh utntk mngkomunikasikan fdan mentranformasikan
sepertangkat produk yang pada gilirannya tentu saja berkaitan sangat erat
dengan industri real.
Betapa
gambaran jelas dan sangat real terlihat dalam sektor pariwisata, bagaimana
sebuah kekuatan berperan untuk menarik minat wisatawan.Terbukti bahwa tantangan
dimana soft power mampu memberikan efek-efek yang tidak sedikit bagi perdagangan,
pariwisata, industri hilir dan hulu, pendidikan, kebudayaan serta berbagai oto
aktivitas dan kreasi masyarakat itu sendiri.
Narasi Membawa Moral Emansipasi
Ketika
Doraemon selalu membantu Nobita dengan berbagai peralatan yang tersimpan dalam
kantung ajaibnya. Dalam masyarakat Jepang, yang telah menjadi masyarakat
industri, Doraemon bisa diartikan sebagai simbol pemasar dan pengiklan yang
ideal. Doraemon mengerti persoalan, kebutuhan, dan angan-angan Nobita,
(konsumennya), serta mampu memberi jawaban atas persoalan tersebut. Alat-alat
Doraemon sangat mudah dioperasikan meskipun tergolong produk berteknologi
tinggi. Ini tentu saja menggambarkan hasrat kemajuan Jepang sendiri dalam
bidang teknologi.
Nobita, di sisi lain, mewakili
gambaran konsumen yang kreatif. Nobita menerima derita kehidupan kanak-kanaknya
dengan gembira, penuh semangat, dan imajinasi. Ketika persoalan telah
terselesaikan, ia tak segan-segan mencoba setiap peralatan untuk keperluan lain
yang tidak dimaksudkan oleh Doraemon perancang, pembuat, dan penjualnya. Sering
percobaan Nobita menyebabkan celaka. Namun, keingintahuan dan optimisme bocah
ini tidak pernah hilang. Diyakini, keingintahuan anak-anak, rasa bebas, dan
pikiran yang jernih pada akhirnya akan menghasilkan beragam produk berteknologi
tinggi, yang dibawa Doraemon dari masa depan.
Mengambil pelajaran dari Jepang,
sebagai penguasa ekonomi, tampaknya juga telah berhasil sejauh ini dengan
menyusun kekuasaan yang “kooptatif”, yaitu menjadikan orang lain
menghendaki apa yang dikehendaki Jepang. Jika benar dugaan Nye bahwa Jepang
bersikap fanatik terhadap budaya sendiri, apakah itu berarti Jepang tidak
menggunakan berbagai perangkat soft power, seperti daya tarik budaya,
ideologi, dan institusi-institusi internasional untuk mengejawantahkannya?
Fanatisme
Jepang tidak seburuk dugaan para pengamat, termasuk Nye. Di Jepang, kemajuan di
bidang artistik telah memacu proses produksi budaya. “Aliansi” di
antara pengusaha menjadikan berlangsungnya penyebaran budaya populer Jepang ke
seluruh Asia. Bahkan secara serius merambah dunia. Di Cina, ketika penjualan
buku komik rata-rata hanya mencapai 20.000 eksemplar, Doraemon terjual
900.000 eksemplar hanya dalam tiga tahun. Barang dagangan bergambar Doraemon
tersebar di seluruh kota dan toko termasuk toko milik negara.
Budaya Dan Milenarianisme
Perkembangan
Politik, Sosial dan Budaya dalam pergaulan global saat ini menjadi arena
penting untuk menggambarkan kondisi bangsa yang sesungguhnya. Fenomena
memboomingnya Serial Meteor Garden yang diikuti berbagai sekuelnya serta
berderet industri yang mem-backupnya (sinema dan musik) serta berbagai entitas
lainnya. Menjadi catatan tersendiri bahwa, ada kesamaan entitas ke-ASIA-an. Hal
ini juga bisa kita hubungkan dengan Kuch-Kuch Hotahe yang juga sama memboomingnya.Meski
nampaknya kita masih menjadi Penonton.
Kedua
hal tersebut memberikan asumsi bahwa identitas ke-ASIA-an sepertinya akan
menjadi trend ke depan, bersaing dengan terus akan mengalirnya berbagai entitas
Hollywood.Tentu saja menjadi peluang bagi dunia sinema dan musik serta industri
pendukung lainnya, bahwa ini harus disikapi dengan sangat tepat.
Soft Power Propecy
Segala
macam praktik, seperti seni penggambaran, komunikasi dan representasi, yang
mempunyai otonomi relatif dari bidang-bidang ekonomi, sosial, dan politik dan
yang sering muncul dalam bentuk-bentuk estetis. Film, Televisi, Drama, dan
Novel menjadi semacam media yang mengembangkan perannya sebagai industrialisasi
citra.
Imperium-imperium barat modern
dari abad ke sembilan belas dan kedua puluh, secara khusus banyak menaruh
perhatian pada studi bentuk-bentuk budaya menjadi bagian yang penting yang
menjadi obyek estetis yang kaitannya dalam masyarakat justeru menjadi acuan
paling organis. Tidak sedikit novel realistik maupun fiksi naratif berkaitan
dengan erat dengan sejarah dunia imperium itu sendiri.
Kekuasaan
untuk bercerita atau menghalangi cerita-cerita lain untuk terbentuk atau
muncul, adalah sangat penting dalam pertarungan kebudayaan dan lebih jauh
membangun imperium. Ini juga yang sangat terbuktikan dengan bagaimana media dan
media kebudayaan membangun struktur kekuatan ekonomi, politik, sosial, budaya
serta militer Amerika untuk menempatakannya pada posisi superior.
Kebanyakan
retorika ‘tata dunia baru’ yang diumumkan secara resmi oleh pemerintah Amerika
sejak Akhir perang dingin—dengan ucapan selamat untuk diri sendiri yang berbau
harum, gaya kemenangan yang tak ditutup-tutupi dan pernyataan bertanggung jawab
yang sungguh-sungguh. Atas segala anasir yang ada di dbelahan dunia manapun.
Yang terpenting lagi adalah cerita-cerita narasi-narasi besar mengenai
emansipasi dan pencerahan, serta menggerakan orang-orang untuk bangkit
menyingkirkan penaklukan atas dirinya dan lingkungannya.
Kedua,
kebudayaan adalah sebuah konsep yang mencakup suatu unsur penyaring dan
pengangkat, gudang terbaik yang dimiliki setiap masyarakat yang telah dikenal
dan dipikirkan Kebudayaan adalah semacam panggung sandiwara dimana berbagai
kausa politik dan ideologi saling terkait. Bukannya menjadi suatu lingkup
kesantunan apollonia yang tenang, kebudayaan bahkan dapat menjadi sebuah medan
pertempuran dimana penyebab-penyebab itu menampakkan diri mereka secara
gamblang dan saling bertikai, menjadi jelas.
Mungkin saja ada data
yang menyediakan seberapa besar Toyota, terjual di negara yang disinggahi
industri citra dari Jepang tadi, atau bagaimana Toshiba dan Sony adalah merk
yang sangat di kenal di berbagai penjuru dunia, Mitsubushi, Yamaha, Fujitsu,
dan sebagainya. Sederet nama panjang yang akhirnya menembus pasaran dunia.
Bukan tidak mungkin, ia juga berkorelasi sangat positif dengan produk
industrialisasi citranya.
Kita tak perlu menghubungkannya dengan
Hollwood, dimana Mac Donald, Pizza Hut, Coca-Cola menjadi santapan kita
sehari-hari, adalah arena yang juga di reproduksi dari industrialisasi
citranya. Karena memang nyata dan terbukti keberadaannya. Dan secara sangat
tidak sadar kita justru menjadi korban sekaligus mangsa. Saya jadi teringat
sebuah cerita ketika, para aktivis Anti Amerika akan berdemo. Mereka berkumpul
untuk merumuskan tema aksi mereka di Mac Donald sambil menyantap burger, dan
Coca-Cola, kemudian disepakatilah hasil rumusan tema demonstrasi mereka ”Boikot
Produk Amerika”. Sungguh sebuah disonansi intelektual.
“Indonesian Soft Power”
Apakah
kita masih memiliki impian untuk membayangkan bahwa, Indonesia tidak hanya
dikenal dari Negara, dengan isu terorisme, atau hanya Bali, yang mampu di ingat
oleh benak, masyarakat dunia. Sulitkah
membayangkan Ayam Goreng Madam Surti menyaingi KFC atau MC Donad ala Amerika. Atau
Gado-gado yang populer itu pada dasarnya menggantikan Salad yang bisanya
tersaji di Pizza Hut.
Atau
Gudeg Jogja, Atau Nasi Goreng Bhakti, menjadi menu popular. Sementara orang
Amerika, setelah menonton film, Gatot Kaca 2, The Steele Muscle. Mampir
ke waralaba Warung Sunda. Ah, mungkin juga memang tidak mungkin, sekuel film
Gatot Kaca 2, sebuah film thriller menjadi box offices, sedangkan sebuah buku
anak ; Lupus : permen karet penyihir,
dicetak hingga kita harus antri untuk mendapatkan keluaran pertamanya. Entah
kapan itu semua bisa mewujud.
Nada
optimispun sebenarnya bukannya tidak ada. Daripada menakuti bangsa sendiri,
dengan takhayul dan misteri, tayangan serupa dengan dunia lain, atau percaya
nggak percaya dan sejenisnya mestinya kita ekspor keluar. Soal contoh modal
budayanya, kita bisa perlihatkan Debus misalnya, tidak sedikit yang
menyandingkannya dengan Voodoo. Mungkin kita bisa perlihatkan kemampuan
menggerakan mesin turbin pembangkit listrik dengan ilmu tenaga dalam atau
menangkap rudal, kemampuan pawang hujan misalnya tentu akan menyita perhatian
dunia. Sialnya kita masih krisis listrik, dan Jakarta saja masih sering
kebanjiran. Bagaimana orang percaya.
Jika mengambil
pemikiran Bourdieu dengan konsep: ”medan budaya”(cultural field), habitus dan
”modal budaya” (cultural capital). Maka pencarian identitas budaya seperti
Jepang dengan fanatismenya melahirkan karakter Doraemon, disini kita punya
Bajuri. Meski sedikit lucu, namun bisa saja Bajuri merupakan Tokoh pahlawan serba
bisa. Meski ia berprofesi sopir Bajaj. Atau sekalian Industri citra kita
possitioningnya memang humor. Jadilah citra kita citra yang lucu sekalian.
Tidak ada yang tidak mungkin. Meski demikian, apa yang sangat korelatif antara
desain industri citra Jepang dengan industri hardware-nya adalah. Teknologi,
serta “teknologi” untuk menularkan teknologi tersebut kesegala pelosok dunia.
Sehingga produk Jepang menjadi unggulan bersaing dengan produk Amerika.
Ide dan gagasan
millenarian, tenyata menjadi penting untuk mengukur sekaligus menjadi
pendongkrak penularan budaya. Gagasan modernitas jelas seiring dengan
perkembangan kondisi dan situasi global, sehingga ruang pergaulan yang semakin
meluas, gaya hidup yang semakin praktis, dan sebagainya ternyata mampu dibaca
oleh Jepang. Yahoo. Siapa yang tak kenal portal ini. Hampir seluruh manusia
pengguna internet didunia ini setengahnya memiliki alamat email disini.
Ternyata ia bukan berasal dari Amerika, melainkan sebuah usaha yang berasal
dari dua pemuda programming komputer dari Jepang. Yahoo. Setidaknya juga
menawarkan apa yang menjadi daya tarik libido modernitas yakni, kemajuan
teknologi. Disitu juga kunci soft ware, soft power yang ditawarkan dalam arena
kekinian, pergaulan dan situasi global.
Tayangan televisi,
film, drama, reality show masih dikelas satu belum beranjak kemana-mana, karena
kita bangsa yang cepat puas sehingga tidak perlu merasa meningkatkan mutu dan
menaikan kelas. Seandainya Gatot kaca rasional, modern, dan millenarian,
mungkin ia akan sepopuler Batman dan Spiderman. Ataupun juga layaknya
Megaloman. Sayangnya Industri citra kita
masih didunia lain dari mainstreem pasar dan logika. Percaya nggak percaya.
Jangan-jangan tidak ada yang percaya kalau kita bisa mewujudkan dan membangun
Industri citra kita menuju sebuah kekuatan Soft Power.
dn.2004
Hello everyone
First of all sorry that I write in this topic but I have some technical problem with the use of this forum. When I’m trying to enter in the appropriate topic, I received a 404 error It’s about the only topic in which I was able to enter. Do you have the same problems? What’s going on?
vascular accidents with accutane
buy accutane
accutane 10mg
Hey - I am really delighted to find this. great job!
Hey - I am certainly happy to find this. great job!
Wow this information is great! Thanks this has helped me alot! Im sure your post’s are one of the best out there! always
so acurate!
Source: wow! good one Here’s some payback: Thought for the day? : Every snowflake in an avalanche pleads not guilty.